Sabtu, 07 Februari 2015

Panah panah sheton


Sudah kita maklumi bersama bahwa banyak sekali tipu daya dan panah-panah setan untuk menyesatkan bani Adam. Panah yang dapat melumpuhkan mangsanya sehingga tidak kuasa berbuat kebaikan dan mampu menggiringnya untuk selalu mengikuti hawa nafsu berbuat keburukan. Jika sebuah panah melesat dari sasarannya, pasti akan diikuti dengan panah kedua, ketiga dan seterusnya. Dalam risalah yang sederhana ini akan mengetengahkan beberapa panah yang dilepaskan setan dan bala tentaranya yang diperankan oleh sebagian manusia, hingga mereka menjadi penyakit yang sering dikeluhkan masyarakat.

Panah Pertama: Nilai Ketaatan yang memudar dan melemah

Memudar dan melemahnya nilai ketaatan adalah dengan meninggalkan ketaatan itu sendiri atau tidak mempertahankan keutuhan nilai-nilai agama di dalam diri berupa amal-amal shalih, akhirnya jatuh kepada perkara bid’ah dan haram. Ada beberapa fenomena yang dapat kita saksikan di tengah-tengah kaum muslimin berkaitan dengan masalah ini, sebagai berikut:

1. Tidak hati-hati dalam berbicara dan berjanji

Masih sering kita jumpai seseorang yang membuat janji kepada saudaranya sesama muslim, namun ia tidak menaruh perhatian terhadap janjinya, bahkan sering kali ia langgar atau terlambat menepatinya. Lebih parah kadang ia malah sudah meniatkan diri untuk melanggar perjanjian itu tanpa memperdulikan akibatnya dan dengan tidak memperhitungkan pahala yang bakal diperoleh dari menepati janji.

2. Terburu-buru dalam memvonis tanpa cek dan ricek (tabayyun) terlebih dahulu

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

3. Berlaku aniaya dalam pertengkaran dan tidak memperhatikan etika dalam berbeda pendapat

Sebagian orang yang begitu tertambat hatinya dengan sebuah pendapat, ia menetapkan wala’ dan bara’ atas dasar pendapat tersebut. Kadang kala ia mencampuri masalah niat dan menebak-nebak isi hati orang lain. Terkadang dia juga mendikte dengan apa yang sebenarnya tidak diyakini oleh seterunya itu, atau dengan cara keji lainnya.

4. Mendengarkan isu dan kabar dusta

Sekarang ini banyak kita temui orang yang suka mendengar isu-isu dari setiap orang. Kemudian dia menyebarkan seluruh yang didengarnya tanpa rasa takut dan bersalah. Kadang-kadang sebuah berita dusta yang bersifat adu domba disampaikan kepada seseorang, lalu ia sebarkan berita itu seolah-olah sebagai sebuah kebenaran yang nyata.

5. Pilih-pilih amal ketaatan

Yaitu memilih amalan-amalan ketaatan yang sesuai dengan dorongan hawa nafsunya saja. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Orang yang bijaksana adalah yang mengoreksi dirinya dan segera beramal sebagai bekal untuk hari akhirat. Dan orang yang lemah adalah yang selalu memperturutkan hawa nafsu, di samping itu ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Sebagian orang hanya mengikuti kebenaran yang sejalan dengan hawa nafsunya, kalau tidak sejalan, maka ia akan menoleh ke kiri dan ke kanan mencari tempat bersandar. Hawa nafsu dapat menjadi ilah yang disembah-sembah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Maka pernahkah kalian melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya.” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Panah Kedua : Penyakit ujub terhadap diri sendiri dan amal

Ujub yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama dari orang lain. Orang yang terkena penyakit ujub akan memandang remeh dosa-dosa yang dilakukannya dan menganggapnya bagai angin lalu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang menimpanya.” (HR. Bukhari)

Sebab-Sebab Ujub

1. Faktor lingkungan dan keturunan

Yaitu keluarga dan lingkungan tempat seseorang tumbuh. Seorang insan biasanya tumbuh sesuai dengan polesan tangan orang tuanya. Ia akan menyerap kebiasaan-kebiasaan keduanya atau salah satunya, yang positif maupun negative, seperti sikap senang dipuji, dan selalu menganggap dirinya suci. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Janganlah kalian menganggap diri kalian suci.” (QS. An-Najm: 32)

2. Bergaul dengan orang yang terkena ujub

Teman akan membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang jahat adalah seperti orang yang berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Lengah terhadap akibat yang timbul dari penyakit ujub

Sekiranya seorang insan menyadari bahwa ia hanya menuai dosa dari penyakit ujub yang menjangkiti dirinya dan menyadari bahwa ujub ini adalah sebuah pelanggaran, sedikitpun ia tidak akan kuasa bersikap ujub. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Tidak akan masuk surga orang yang terdapat sebesar biji dzarrah kesombongan dalam hatinya. Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat bagaikan semut yang dinjak-injak manusia.”Ada seseorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah seseorang ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud)

Panah Ketiga : Sanjungan yang menghanyutkan

Hindarilah sifat senang disanjung orang, maksudnya bukan orang lain tidak boleh memuji perbuatan itu, tetapi janganlah kamu meminta pujian dari orang lain. Hendaknya engkau selalu berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun dengannya menimbulkan kemarahan manusia, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meridhainya dan akan membuat manusia ridha terhadapnya. Dan barangsiapa yang mencari kesenangan manusia, namun dengannya membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka, maka Allah murka kepadanya dan membuat manusia murka terhadapnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Hendaknya seseorang menyederhanakan bahasa dan tutur katanya. Jangan sampai lisannya menjadi batu sandungan bagi dirinya. Sebab dosa dituai lisan pada umumnya dari hal semacam ini. Seandainya orang yang senag dipuji selalu ingat (bahaya yang ditimbulkan pujian), niscaya ia menyadari bahwa dialah yang paling mengetahui akan kelemahan dirinya sendirinya. Namun manusia selalu lupa, mudah terpedaya dan suka berpaling dari nasihat orang lain yang mengajarkan kepadanya etika pergaulan dan nilai-nilai agama.

Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menutupi kesalahan-kesalahan kita, dan itu merupakan nikmat yang sangat besar. Maka jangan sampai kejahilan orang yang menyanjungmu menguasai kesadaranmu akan kadar dirimu. Setiap orang tentu lebih tahu tentang rahasia dirinya sendiri daripada orang lain. Pujian orang lain kepada kita hanyalah jarring-jaring godaan yang dilemparkan setan untuk menjerat kita. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita dari godaan detan dan tidak menjadikan kita termasuk golongan mereka.

Washalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

Sumber: Buletin Dakwah As-Silmi

0 komentar:

Posting Komentar