Di antara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah istighfar (memohon ampun) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan). Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan:
“Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”
Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani Rahimahullah menerangkan:
“Dalam istilah syara’, taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna.”
Imam An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan:
“Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga: Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali perbuatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah. Jika taubatnya itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.” (Riyadhus Shalihin, hlm. 41-42)
Al-Asfani Rahimahullah berkata, ”Adalah meminta (ampunan) dengan ucapan dan perbuatan.”
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Mohonkanlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.” (QS. Nuh [71]: 10)
Namun berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan.
Jangan Melalaikan dan Meremehkan Istighfar
Jangan meremehkan istighfar, karena sekedar lafazh saja yang terucap saja. Karena dari istighfar inilah bermula hakikat penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu hati remuk-redam, bersedih mengingat dosa yang pernah diperbuat setiap harinya. Banyak ilmu dan amal yang belum kita ketahui, kemudian banyak ilmu yang sudah kita ketahui tidak kita amalkan, belum lagi maksiat yang kita lakukan. Kemudia berbelas-belas memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon dikasihani, kemudian berjanji akan beramal kebaikan dan menghapus dosa yang kita perbuat. Setelah itu barulah hati bergembira karena teringat janji Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui lisan Rasul-Nya,
“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka, (pertama) mata yang menagis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, (kedua) mata yang bermalam dalam keadaan berjaga di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Tirmidzi No. 1639)
Dan hadits,
“Ada tujuh orang yang akan dinaungi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Naungannya pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Nya sendiri, orang yang mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala di waktu keadaan sunyi lalu berlinanglah air mata dari kedua matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Istighfar Membuat Kehidupan Menjadi Mudah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan hendaklah kalian meminta ampun (istighfar) kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kalian mengerjakan demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepada kalian sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Hud [11]: 3)
Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah menafsirkan ayat ini,
“Yang dimaksus dengan kenikmatan adalah rizki yang melimpah, kehidupan yang lapang dan keselamatan di dunia, dan yang dimaksud dengan waktu yang ditentukan adalah kematian.” (Adhwa’ul Bayan 2/170)
Imam Al-Qurthubi Rahimahullah menukil dari Ibnu Shuhaibah Rahimahullah dalam tafsirnya, bahwa ia berkata,
“Ada seorang laki-laki mengadu kepada Hasan Al-Bashri Rahimahullah tentang kegersangan bumi maka beliau berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” yang lain mengadu kepadanya dengan kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” yang lain lagi berkata kepadanya, “Doakan (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!” maka beliau mengatakan kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” Dan yang lain mengadu tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan pula, “Beristighfarlah kepada Allah!” Dan kamipun menganjurkan demikian kepada orang tersebut. Lantas Hasan Al-Bashri Rahimahullah menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam Surat Nuh.” (Al-Jami’ Liahkamil Qur’an 18/302)
Yang dimaksudkan oleh Hasan Al-Bashri Rahimahullah adalah ayat berikut ini,
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonkanlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membayakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai.” (QS. Nuh [71]: 10-12)
Jangan Lalai Berdzikir
Kita sepertinya lupa dengan anjuran berdzikir, padahal hal ini adalah perbuatan yang sangat mudah. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda,
“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat di timbangan dan disukai Ar-Rahman yaitu, “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung).”(HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian balasan dzikir sederhana yang dapat berbuah pahala besar dapat kita lihat pada Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa mengucapkan, “Subhanallah wa bihamdihi” di dalam sehari 100 kali, dihapuskan dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan.” (HR. Buhkari dan Muslim)
Perhatikan, hanya sekitar 3 – 5 menit untuk membaca 100 kali, dosa kita terhapus semuanya.
Terbukti, Kuatnya Pengaruh Dzikir
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah memaparkan bagaimana pengaruh dzikir terhadap hamba berdasarkan pengamatannya langsung terhadap guru beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah,
“Sesungguhnya bacaan dzikir memberikan kepada pelakunya kekuatan. Sampai-sampai ia mampu melakukan pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan bila tanpa berdzikir.” (Al-Wabilus Shayyib min Kalamith Thayyib hlm. 7)
Hanya berdzikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala hati kita menjadi tenang, jika masih saja tidak tenang padahal sudah berdzikir, ketahuilah hati kita mungkin sedang sakit, sehingga perlu keseriusan dan terus menerus berdzikir.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS/ A-Ra’d [13]: 28)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
“Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh sebagian besar manusia yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang.” (HR. Bukhari)
Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Sumber: Buletin Dakwah As-Silmi







0 komentar:
Posting Komentar