Senin, 02 Februari 2015

Istighosah


Istigotsah artinya berdoa memohon kepada Alloh Ta’ala pada saat-saat sulit dan kritis agar dihindarkan oleh Alloh Ta’ala dari situasi kritis tersebut. Yang sering terjadi di masyarakat adalah istigotsah tersebut dilakukan secara jama’i (bersama-sama) dan dipimpin oleh seorang ustadz atau kyai. Para peserta yang ikut dalam acara tersebut secara bersama-sama mengulangi dzikir-dzikir yang dilantunkan oleh sang ustadz.

Cara istigotsah semacam ini tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Yang dilakukan oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam ialah beristigotsah (memohon kepada Alloh Ta’ala) dengan sungguh-sungguh. Seperti ketika menjelang perang Badar, yaitu malam harinya, Rosululloh sholallohu alaihi wasallam dan para sohabatnya secara sendiri-sendiri beristigotsah memohon dengan sungguh-sungguh kepada Alloh Ta’ala agar dimenangkan dalam menghadapi tentara Quraisy yang jumlahnya berlipat-lipat dari jumlah kaum muslimin. Tetapi, Rosululloh sholallohu alaihi wasallam tidak pernah melakukannya secara berjama’ah. Beliau juga tidak mengajarkan lafaz-lafaz dzikir tertentu dalam beristigotsah. Ini semua termasuk bid’ah. Ini jika istigotsah tersebut ditujukan kepada Alloh Ta’ala.
Namun apabila istigotsah tersebut ditujukan kepada selain Alloh Ta’ala, seperti arwah orang-orang soleh yang telah meninggal, maka hal itu bukan sekedar bid’ah lagi, akan tetapi sudah terjatuh ke dalam syirik akbar. Amalan ini sering didapati pada acara manaqiban, dimana para jama’ah berdoa memohon kepada roh si mayit. Mereka sering berkata:
“Wahai para laki-laki pilihan Alloh, tolonglah kami karena Alloh. Jadilah kalian penolong-penolong kami karena Alloh. Wahai wali-wali aqtob, wahai wali-wali anjab. Wahai para tuan, wahai para kekasih. Dan kalian wahai orang-orang yang berakal, kemarilah to-longlah kami karena Alloh.” (Disebutkan dalam kitab Lubab al-Ma’ânî, hal. 95)
Ada juga doa istigotsah yang berbunyi sebagai berikut:
( أَيُّهَا اْلأَرْوَاحُ الطَّاهِرَةُ، مِنْ رِجَالِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، كُوْنُوْا عَوْناً لَناَ فِي نَجَاحِ الطَّلَبَاتِ وَتَيْسِيْرِ الْمُرَادَاتِ )
“Wahai para arwah yang suci dari para lelaki yang goib maupun yang ada, jadilah kalian penolong-penolong kami dalam meluluskan permohonan-per-mohonan dan memudahkan keinginan-keinginan.” (Disebutkan dalam kitab Lubab al-Ma’ânî, hal. 93)
Kalimat-kalimat semacam itu lazim dibaca dalam upacara-upacara istigotsah kubro ataupun manaqiban. Amalan semacam ini jelas-jelas sesat dan syirik karena orang yang telah meninggal tidak bisa dimintai pertolongan, baik yang meninggal itu seorang nabi, wali atau siapapun.

Disusun oleh: Lajnah Ilmiah Marwah Indo Media (MIM) Bogor

0 komentar:

Posting Komentar