mujahid para perindu syurga

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Peduli Yatim Dan Dhuafa

"Barang siapa yang memelihara anak yatim di tengah kaum muslimin untuk memberi makan dan minum, maka pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali jika ia telah berbuat dosa yang tidak dapat diampuni." (H.R. Tirmidzi).

slide ke 3

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

hadirillah tabligh akbar hasmi “SETIA sampai Ajal

Hadiri dan Ikutilah..!! Tausiah, Tasyji’, Tanbih, Targhib, dan Taujih Dewan Pembina HASMI : Pada: Ahad, 08 Februari 2014 Pemateri: Dewan Pembina HASMI Tema: “SETIA sampai Ajal”

Hikmah di balik pemblokiran situs islam

Bagi setiap muslim, musibah atau kejadian apapun yang menimpanya pasti akan diiringi dengan hikmah

Jika Ada Bagian Tubuh yang Sakit, Ini Doa dan Terapi yang Diajarkan Rasulullah

Rasulullah mensabdakan, segala penyakit pasti ada obatnya. Karena itu beliau menganjurkan umatnya untuk berobat. Selain itu, beliau juga mengajarkan doa-doa khusus untuk sakit tertentu.

Hayoo Miliki segera, Paket Buku Saku keluarga Islami + CD tausyiah

Buku saku yang sangat layak dimiliki oleh setiap muslim yang ingin mempelajari tentang realita yang ada pada masyarakat pada saat ini

Selamatkan Diri dari Dajjal : Persenjatai Diri dengan Ilmu Agama

DAJJAL seperti yang telah kita tahu akan datang dan menyebarkan fitnahnya di muka bumi ketika Akhir Zaman tiba

Kamis, 06 November 2014

Karakter dan Tugas Pendidik



Pengantar
Pendidik bukanlah semata-mata profesi untuk menghasilkan suatu materi, tetapi pada hakikatnya ia melakukan hal-hal utama, antara lain:
1). melaksanakan seruan dan perintah di dalam Islam.
2). mendekatkan diri kepada Allah.
3). menghidupkan syiar Islam.
4). melanjutkan tugas/ peran Rasulullah dalam memperbaiki kondisi ummat.

Karakter Pendidik
Karakter pendidik menurut Ibn Jama’ah:
1). Pendidik harus berkepribadian Islami, yaitu memelihara dan menegakkan syariah Islam, termasuk dalam menjaga adab dan hal-hal yang disunnahkan baik ucapan maupun perbuatan, spt: berdzikir, membaca al-Qur’an, dll.
2). Berinteraksi dengan akhlak yang terpuji, spt: mengendalikan amarah, berlemah lembut, gemar berbuat kebaikan, amar ma’ruf nahi munkar, dll.

Karakter pendidik menurut Muhamad ‘Athiyah al-Abrasyi:
1). Memiliki sifat zuhud, tidak mengutamakan materi, mengajar karena mengharap keridhaan Allah semata.
2). Pribadinya bersih dari dosa-dosa besar, riya’, dengki, permusuhan, dan sifat tercela lainnya.
3). Ikhlas dan jujur dalam menunaikan pekerjaannya.
4). Bersikap pemaaf terhadap peserta didiknya, menahan amarah, lapang dada.
5). Mencintai peserta didik seperti mencintai anak-anaknya sendiri dengan memikirkan keadaan mereka seperti terhadap anak-anaknya sendiri.
6). Mengetahui tabiat/ kebiasaan dan pemikiran peserta didiknya agar ia tidak keliru dalam mendidiknya.
7). Menguasai mata pelajaran yang akan diberikannya, serta terus memperdalam pengetahuannya sehingga penyampaian tidak bersifat dangkal.

Karakter pendidik menurut Abdurrahman an-Nahlawy:
1). Tingkah laku dan pola pikir pendidik harus bersikap rabbani. (Lihat: QS. Ali Imran: 79.
2). Pendidik seorang yang ikhlas.
3). Pendidik harus bersabar dalam mengajarkan berbagai pengetahuan kepada peserta didik.
4). Pendidik harus jujur dalam menyampaikan apa yang diserukannya.
5). Pendidik senantiasa membekali diri dengan ilmu dan kesediaan membiasakan untuk mengkajinya.
6). Pendidik mampu menggunakan metode mengajar secara bervariasi.
7). Pendidik mampu mengelola peserta didik, tegas dalam bertindak serta meletakkan berbagai perkataan secara proporsional.
8). Pendidik mempelajari kehidupan psikis para pelajar selaras dengan masa perkembangannya.
9). Pendidik harus bersikap adil.

Tugas & Peran Pendidik
1). Tugas dalam Bidang Profesi
Bertanggungjawab dalam membantu peserta didik mencapai kedewasaannya.
Hal tersebut terwujud dengan melakukan;
a). Mendidik dan mengajarà mengembangkan ilmu pengetahuan.
b). Melatih à mengembangkan keterampilan
2). Tugas dalam Bidang Kemanusiaan
membantu mengembangkan potensi peserta didik, dimana pendidik berperan sebagai fasilitator, motivator, dsb.
3). Tugas dalam Bidang Kemasyarakatan
Pendidik berkewajiban mencetak generasi yang sholih dan mencerdaskan bangsa menuju manusia yang seutuhnya

Hakikat Pendidikan


Dalam wacana pendidikan Islam, istilah pendidikan diambil dari beberapa kata, diantaranya:
1). اَلتَّرْبِيَةُ ----- > رَبَّى – يُرَبِّي - تَرْبِيَةً
2). اَلتَّعْلِيْمُ ---- > عَلَّمَ – يُعَلِّمُ - تَعْلِيْمًا
3). اَلتَّأْدِيْبُ ---- > أَدَّبَ – يُؤَدِّبُ – تَأْدِيْبًا
4). اَلإِصْلاَحُ ---- > أَصْلَحَ – يُصْلِحُ - إِصْلاَحًا
5). التهْذِيْبُ ---- >  هَذَّبَ – يُهَذِّبُ – تَهْذِيْبًا
6). اَلتَّطْهِيْرُ ---- > طَهَّرَ – يُطَهِّرُ - تَطْهِيْرًا
7). اَلتَّزْكِيَةُ ---- > زَكَّى – يُزَكِّيْ - تَزْكِيَةً
Definisi Tarbiyah
Secara etimologis (bahasa), kata tarbiyah mengandung beberapa arti yang seluruhnya menunjukkankegiatan-kegiatan dalam proses tarbiyah itu sendiri, yaitu:
1).  اَلإِصْلاَحُ(perbaikan), dari kata  رَبَّى - يَرُبُّ.
 رَبَّى الشَّيْءَ berarti أَصْلَحَهُ (memperbaikinya).
Kata  الإِصْلاَحُ terkadang tidak harus berarti adanya penambahan (الزيادة), tetapi ia berarti التعديل(pelurusan) dan  التصحيح (perbaikan). 
Menurut arti ini maka tarbiyah berarti usaha memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengatur kehidupan peserta didik agar dapat survive lebih baik dalam kehidupannya.[1]
2). النماء (tumbuh) dan الزيادة  (bertambah), dari kata ربا – يربو berarti زاد (bertambah) dan نما(tumbuh).
وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu, subur menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”. (QS. al-Hajj [22]:5).
Dari sini maka kata tarbiyah dapat berarti proses menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada pada diri peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial maupun spiritual.[2]
3). نَشَأَ (berkembang) dan  تَرَعْرَعَ (tumbuh dewasa), dari kata  رَبِيَ - يَرْبَى.
Hal ini sebagaimana dalam sebuah sya’ir Ibn al-‘Arabī:
فَمَنْ يَكُنْ سَائِلاً عَنِّيْ فَإِنِّيْ # بِمَكَّةَ مَنْزِلِيْ وَبِهَا رَبِيْتُ
Barangsiapa bertanya tentangku # Mekkah adalah tempat tinggalku, disanalah aku tumbuh dewasa.
Dengan mengacu pada arti ini maka tarbiyah berarti usaha menumbuhkan dan mendewasakan peserta didik baik secara fisik, sosial, maupun spiritual.
4). سَاسَ (memimpin) dan  تَوَلىَّ اْلأَمْرَ (mengatur suatu urusan). Jika dikatakan  رَبَيْتُ اْلقَوْمَ berarti سُسْتُهُمْ(aku memimpin mereka), berarti pula ‘aku diatas mereka’.
5). التعليم (pengajaran).
Ibn al-A’rābī mengatakan bahwa seorang rabbānī  اَلرَّبـَّانِيُّ adalah:
العالم المعلم الذي يغذو الناس بصغار العلوم قبل كبارها
seorang yang berilmu lagi pendidik yang mengajarkan kepada manusia ilmu-ilmu dasar sebelum ilmu-ilmu yang lebih rumit.
Definisi Pendidikan
Secara Bahasa al-tarbiyah yaitu:
تبليغ الشيء إلى كماله شيئا فشيئا
menyampaikan sesuatu menuju kesempurnaannya sedikit demi sedikit.
Atau:
إنشاء الشيء حالا فحالا إلى حد التمام
mengembangkan sesuatu sedikit demi sedikit hingga batas kesempurnaan.
Hāmid al-Hāzimi menyimpulkan bahwa dari berbagai definisi etimologis tersebut maka kata tarbiyahmemiliki arti seputar kegiatan memperbaiki, mengatur urusan peserta didik (al-mutarabbi), memperhatikan dan menjaga perkembangannya.[3]
Abuddin Nata menegaskan bahwa jika kata-kata tersebut diintegrasikan maka akan diperoleh pengertian bahwa al-tarbiyah berarti:
“Proses menumbuhkan dan mengembangkan potensi; fisik, intelektual, sosial, estetika, dan spiritual, yang terdapat pada peserta didik sehingga dapat tumbuh dan terbina dengan optimal, melalui cara memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki, dan mengaturnya secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan”.
Dengan demikian kata al-tarbiyah mengandung cakupan tujuan pendidikan, yaitu; menumbuhkan dan mengembangkan potensi; dan proses pendidikan, yaitu memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki, dan mengaturnya.[4]
Khālid Hāmid al-Hāzimi memberikan arti terminologis al-tarbiyah sebagai :
تنشئة الإنسان شيئا فشيئا في جميع جوانبه إبتغاء سعادتي الدارين وفق المنهج الإسلامي
mengembangkan diri manusia setahap demi setahap dalam seluruh aspeknya dalam rangka mencari kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai dengan metode yang islami.     
Beberapa hal mendasar dalam pengertian al-tarbiyah,
1). Tarbiyah adalah sebuah pekerjaan yang terarah. Ia memiliki tujuan, target, dan sasaran;
2). Murabbi (pendidik) yang hakiki secara mutlak adalah Allah  Sang Pencipta, Dia Pencipta fitrah, pemberi berbagai anugerah, dan Dia yang telah menentukan berbagai ketentuan dalam menumbuhkan dan mengembangkan fitrah dan anugerah tersebut, sebagaimana Dia telah menentukan syariah untuk mewujudkan kesempurnaan, kebaikan, dan kebahagiaannya;
3). Tarbiyah mengharuskan adanya perencanaan yang bertahap yang dijalankan oleh pekerjaan-pekerjaan terkait pendidikan dan pengajaran, sesuai dengan aturan yang tersusun dan meningkat, bergerak bersama peserta didik dari satu kondisi kepada kondisi berikutnya, dari satu tingkat kepada tingkat berikutnya;
4). Pekerjaan seorang pendidik mengikuti penciptaan Allah  sebagaimana mengikuti syariah dan agama-Nya.[5]



[1] Lihat: Khālid Hāmid al-Hāzimī, Ushūl al-Tarbiyah al-Islāmiyyah, 1420H/ 2000. al-Madīnah al-Munawwarah: Dār ‘Ālim al-Kutub, hlm. 17-18.

Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, 2000, Jakarta: Kencana, hlm. 8
[2] Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 8
[3] Khālid Hāmid al-Hāzimī, Ushūl al-Tarbiyah al-Islāmiyyah, hlm. 18.
[4] Lihat: Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 8
[5] ‘Abd al-Rahmān al-Nahlāwī, Ushūl al-Tarbiyah al-Islāmiyyah wa Asālibuha fi al-Bayt wa al-Madrasah wa al-Mujtama’, 1426H/ 2005, Damaskus: Dar al-Fikr, hlm. 17.