TIPS MENGELOLA KEUANGAN MENURUT KAIDAH ISLAM
1. Buat Perencanaan
Merencanakan pendapatan dan pengeluaran merupakan titik awal
mengelola keuangan. Dengan perencanaan yang baik, kita dapat mengatur kebutuhan
dan menentukan skala prioritas kebutuhan mana yang
harus didahulukan untuk dipenuhi. Meskipun pada prakteknya seringkali tidak sesuai dengan perencanaan namun setidaknya dengan perencanaan kita akan lebih mudah mencapai tujuan
harus didahulukan untuk dipenuhi. Meskipun pada prakteknya seringkali tidak sesuai dengan perencanaan namun setidaknya dengan perencanaan kita akan lebih mudah mencapai tujuan
• Tulis
rencana Pendapatan dan Pengeluaran dalam satu bulan
• Atur
pengeluaran jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang
• Bedakan
antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang harus dipenuhi
dan diprioritaskan meski kadang tidak kita inginkan.
• Buat skala
prioritas, mana kebutuhan yang sangat penting, penting, kurang penting dan
tidak penting.
2.Catat Pengeluaran harian
Mencatat pengeluaran secara detil dapat membantu kita
untuk mengetahui mana pengeluaran yang memang perlu dan merupakan
kebutuhan dan pengeluaran mana yang mana yang kurang perlu dan bisa
dikesampingkan di hari kemudian.
3.Nabung
Dalam hal ini menabung
dapat digolongkan dalam 2 bagian yaitu menabung di dunia untuk berjaga-jaga
atas kebutuhan yang mendesak dan menabung untuk akherat berupa harta yang kita
nafkahkan di jalan Allah sebagai investasi kita untuk masa depan yang
abadi.
Tips nabung
• Tentukan
tujuan menabung - misal untuk ONH, beli motor, biaya sekolah, dsb
• Lakukan di awal
bulan, jangan menunggu sisa krn biasanya manusia sulit menahan diri utk tdk
menghabiskan uang (misal susah utk nabung 100 rb tapi bisa bayar utang 200 rb)
• Gunakan segala
macam cara : Lembaga Keuangan, celengan ayam, toples, asuransi, obligasi dll.
Untuk lembaga keuangan usahakan menggunakan jasa bank syariah atau lembaga
Syariah lain misalnya BMT agar terhindar dari riba.
• Jangan
meremehkan uang receh. Kata pepatah ”Berdikit-sedikit lama-lama menjadi
bukit.” Bahkan dengan menabung secara rutin dan istiqomah seorang tukang becak
bisa menunaikan ibadah haji.
Menabung
Berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian,
bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian
4.Hindari utang
Selain itu kita juga harus berusaha menghindari utang
Tips utang
• Pikir
masak-masak sebelum utang
• Sebaiknya utang
hanya dilakukan jika benar-benar butuh misalnya untuk memenuhi kebutuhan primer
atau untuk digunakan untuk modal usaha usaha. Jangan berhutang karena
‘keinginan’ untuk bermewah-mewahan dan membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan
atau bisa ditunda pemenuhannya
Utang
Berenang-renang ke hulu terhanyut ke tepian,
bersenang-senang dahulu kepala nyut-nyut kemudian.
5.Hemat dan Sederhana
Islam
mengajarkan sikap pertengahan dalam segala perkara, begitu juga dalam
mengeluarkan harta, yaitu tidak berlebihan dan tidak pula kikir. Sikap
berlebihan adalah sikap hidup yang merusak jiwa, harta, dan masyarakat,
sementara kikir adalah sikap hidup yang dapat menahan dan membekukan harta.
Allah berfirman :
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah yang demikian.” (QS. Al-Furqan : 67).
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah yang demikian.” (QS. Al-Furqan : 67).
Oleh karena itu, diwajibkan kepada para muslimin untuk bersikap pertengahan
dalam membelanjakan harta dan menjauhi sifat kikir. Hal ini diperkuat dengan
sabda rasul Saw :
“Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha
dari yang baik, membelanjakan dengan pertengahan, dan dapat menyisihkan
kelebihan untuk menjaga pada hari dia miskin dan membutuhkannya. (HR.
Ahmad).
Hemat tidak sama dengan pelit, sederhana tidak berarti menderita. Membelanjakan
harta secara sederhana berarti membelanjakan harta sesuai dengan kebutuhan,
tidak berlebihan(boros) namun tidak pelit. Sikap ini bersifat relatif,
tidak sama antara satu orang dengan orang lain karena kebutuhan setiap orang
berbeda-beda.
Sederhana tidak berarti harus mengenakan pakaian yang usang dan bertambal, HP
yang sudah sering drop atau mengendarai motor yang jago mogok. Sepanjang kita
mempunyai dana maka tidak terlarang untuk membelanjakan harta untuk membeli hal
yang memang kita perlukan. Rasulullah mempunyai seekor unta merah yang hebat,
sekelas dengan mobil mewah Jaguar. Rasulullah juga mempunyai sebuah pedang yang
bagus dan kuat.
Namun hal ini tidak mengurangi kesederhanaan Rasulullah karena memang beliau membutuhkannya.Jadi tempatkanlah segala sesuatu dengan sebagaimana mestinya.
Namun hal ini tidak mengurangi kesederhanaan Rasulullah karena memang beliau membutuhkannya.Jadi tempatkanlah segala sesuatu dengan sebagaimana mestinya.
6.Ukur Kemampuan Diri
Jangan bergaya hidup mewah padahal kita tidak mampu. Bahkan
Rasulullah selalu hidup sederhana meskipun beliau bisa hidup mewah jika beliau
ingin. Tidak perlu gengsi krn barang-barang kita tidak bermerk, murahan atau
sedikit kuno sepanjang masih bisa berfungsi dengan baik dan bisa menunjang
kegiatan kita it’s OK.
7.Cari Penghasilan Sampingan
Salah satu kriteria pribadi muslim adalah Qodirun 'alal
kasbi (mampu berpenghasilan) dan nafi'un li ghoirihi (bermanfaat bagi orang
lain). Berusahalah untuk tetap bekerja meskipun kita berada dalam keadaan
berkecukupan. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian
hari.
Berdasarkan syariat, seorang muslim diminta bekerja
untuk mencapai beberapa tujuan seperti untuk memenuhi kebutuhan pribadi dengan
harta yang halal, mencegahnya dari kehinaan meminta-minta, dan menjaga
tangannya agar tetap berada di atas. Selain itu bekerja merupakan perintah
Allah kepada orang-orang beriman :“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka
Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan
kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang
nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At
Taubah:105)”
Gali dan kembangkan keahlian dan/hobby yg kita miliki,
jadikan sebagai peluang untuk mendapatkan maisyah/penghasilan. Tidak perlu
mengeluh karena kekurangan modal. Sepanjang ada kemauan untuk maju, maka Allah
pasti akan memberikan jalan. Bahkan Abdurahman bin Auf sewaktu hijrah ke
Madinah tidak mempunyai apa-apa. Ia hanya minta ditunjukkan dimana letak pasar
kepada sahabat Anshar. Dan tak lama kemudian ia sudah menjadi kaya.
Wallahu a’lam bishowab
Sumber Kepustakaan :
• Materi Tarbiyah : Etika Membelanjakan Harta
• Materi Tarbiyah : Bekerja dan Berpenghasilan
• Karakteristik Pribadi Muslim
• Karyawan Juga Bisa Kaya – Safir Senduk







0 komentar:
Posting Komentar