mujahid para perindu syurga

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Peduli Yatim Dan Dhuafa

"Barang siapa yang memelihara anak yatim di tengah kaum muslimin untuk memberi makan dan minum, maka pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali jika ia telah berbuat dosa yang tidak dapat diampuni." (H.R. Tirmidzi).

slide ke 3

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

hadirillah tabligh akbar hasmi “SETIA sampai Ajal

Hadiri dan Ikutilah..!! Tausiah, Tasyji’, Tanbih, Targhib, dan Taujih Dewan Pembina HASMI : Pada: Ahad, 08 Februari 2014 Pemateri: Dewan Pembina HASMI Tema: “SETIA sampai Ajal”

Hikmah di balik pemblokiran situs islam

Bagi setiap muslim, musibah atau kejadian apapun yang menimpanya pasti akan diiringi dengan hikmah

Jika Ada Bagian Tubuh yang Sakit, Ini Doa dan Terapi yang Diajarkan Rasulullah

Rasulullah mensabdakan, segala penyakit pasti ada obatnya. Karena itu beliau menganjurkan umatnya untuk berobat. Selain itu, beliau juga mengajarkan doa-doa khusus untuk sakit tertentu.

Hayoo Miliki segera, Paket Buku Saku keluarga Islami + CD tausyiah

Buku saku yang sangat layak dimiliki oleh setiap muslim yang ingin mempelajari tentang realita yang ada pada masyarakat pada saat ini

Selamatkan Diri dari Dajjal : Persenjatai Diri dengan Ilmu Agama

DAJJAL seperti yang telah kita tahu akan datang dan menyebarkan fitnahnya di muka bumi ketika Akhir Zaman tiba

Kamis, 01 Oktober 2015

MAKUL PSIKOLOGI AGAMA

Psikologi Agama merupakan cabang ilmu psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan pengaruh usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan Psikologi. Tegasnya psikologi agama mempelajari dan meneliti fungsi-fungsi jiwa yang memantul dan memperlihatkan diri dalam prilaku dan kaitannya dengan kesadaran dan pengalaman agama manusia. Psikologi agama berbeda dari cabang-cabang psikologi yang lainya, karena dihubungkan dengan dua bidang pengetahuan yang berlainan.[3] Sebagian harus tunduk kepada agama dan sebagian lainnya tunduk kepada ilmu jiwa (psikologi).[3] Sebagaimana telah diketahui bahwa psikologi agama sebagai salah-satu cabang dari psikologi, merupakan ilmu terapan.[2]
Psikologi Agama menggunakan dua kata yaitu "psikologi" dan "agama".[1][2][3] Kedua kata tersebut memiliki pengertian dan pengunan yang berbeda, meskipun keduanya memiliki aspek kajian yang sama yaitu aspek batin manusia.[2]
Kata Psikologi (ilmu jiwa) dipergunakan secara umum untuk ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia.[3] Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab.[1][2] Menurut Robert H. Thouless, mendefinisikan psikologi sebagai ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia.[2][1] Menurut Plato dan Aristoteles psikologi adalah ilmu yang mempelajari hakikat manusia.[3] Secara umum psikologi adalah sebuah ilmu yang meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaan yang berada dibelakangnya.[1][2]
Dari pendapat para ahli tersebut tentang psikologi agama dapat diambil pengertian secara umum, psikologi agama yaitu ilmu pengetahuan yang membahas pengaruh agama dalam diri (kognitif=pengetahuan, afektif= perasaan/sikap, behavior= prilaku atau tindakan) seseorang dalam kehidupannya yaitu dalam berinteraksi dengan Tuhan/Pencipta, sesama manusia dan lingkungannya.[3]
Psikologi Agama menurut Prof. Dr. Hj Zakiah Daradjat ialah meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi, dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan masuk kedalam konstribusi kepribadiannya.[3][2] Dr. Nico Syukur Dister berpendapat psikologi agama adalah ilmu yang menyelidiki pendorong tindakan-tindakan manusia, baik yng sadar maupun yang tidak sadar, yang berhubungan dengan dengan kepercayaan terhadap ajaran/wahyu "Nan Illahi" (segala sesuatu yang bersifat Dewa-dewa) yang juga tidak terlepas dari pembahasan hubungan manusia dengan lingkungannya.[3] Dari pendapat para ahli tersebut tentang psikologi agama dapat diambil pengertian secara umum, psikologi agama yaitu ilmu pengetahuan yang membahas pengaruh agama dalam diri (kognitif=pengetahuan, afektif= perasaan/sikap, behavior= prilaku atau tindakan) seseorang dalam kehidupannya yaitu dalam berinteraksi dengan Tuhan/Pencipta, sesama manusia dan lingkungannya.[3]
Penelitian agama sacara ilmu jiwa (psikologi modern) relatif masih muda.[3] Para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikolgi agama mulai popular sekitar abat ke-19.[2] Ketika itu psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama.[3] Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berfikir, dan mengemukakan perasaan keagamaan.[2]
Perkembangan di Barat
Perkembangan psikologi agama di barat mengalami pasang surut. [3] Bersamaan dengan perkembangan psikologi modern, pada tahun 1890-an, psikologi berkemang pesat.[3]Tetapi pada tahun 1930-1950 psikologi agama mengalami penurunan.[3] Setelah itu meningkat lagi, bahkan berkembang pesat pada tahun 1970 sampai sekarang.[3] Menurut Thouless, sejak terbitnya buku The Varietes of Religion Experience tahun 1903, sebagai kumpulan kuliah William James di empat Universitas di Skotlandia, maka langkah awal kajian psikologi agama mulai diakui oleh para ahli psikologi dan dalam jangka waktu tiga puluh tahun kemudian, banyak buku-buku lain diterbitkan dengan konsep-konsep yang serupa.[1] [2] Diantara buku-buku tersebut adalah The Psychology of Religion karangan Edwind Diller Starbuck, yang mendahului karangan Wlilliam James.[1][2] Buku E.D. Starbuck yang terbit tahun 1899 ini kemudia disusul sejumlah buku lainnya seperti The Spiritual Life oleh George Albert Coe, tahun 1900, kemudian The Belief in God and Immortality (1921) oleh H.J. Leuba dan oleh Robert H. Thouless dengan judul An Introduction on thr Psycology of Religion tahun 1923 serta R.A. Nicholson yang khususnya mempelajari mengenai aliran Sufisme dalam Islam dengan bukunya Studies in Islamic mysticism, tahun 1921.[1] Sejak itu , kajian-kajian tentang psikologi agama tampaknya tidak hanya terbatas pada masalah-masalah yang menyangkut kehidupan keagamaan secara umum, melainkan juga masalah khusus.[1] J.B. Pratt misalnya, mengkaji mengenai kesadaran beragama melalui bukunya the Religius Conciusness (1920), Dame Julian yang mengkaji tentang wahyu dengan bukunya Revelation of Devine Love tahun 1901.[1][2]
Selanjutnya, kajian-kajian psikologi agama juga tidak terbatas pada agama-agama yang ada di Barat (Kristen) saja melainkan juga agama-agama yang ada di Timur.[1][2] A.J. Appasmyy dan B.H. Steeter menulis tentang masalah yang menyangkut kehidupan penganut agama Hindu dengan bukunya The Sadhu (1921).[1][2] Sejalan dengan perkembangan itu, para penulis non-Barat pun mulai menerbitkan buku-buku mereka.[1][2] Tahun 1947 terbit buku The Song of God Baghavad Gita, terjemahan Isherwood dan Prabhavanada, kemudian tahun 1952 Swami Madhavananda menulis buku Viveka-Chumadami of Sankaracharya yang disusul penulis India lainnya, Thera Nyonoponika dengan judul The Life of Sariptta (1966).[1][2] Demikian pula, Swami Ghananda menulis tentang Sri Rama dengan judul Ramakrisna, His Unique Massage (1946).[1][2]
Perkembangan di Timur
Didunia Timur, khususnya diwilayah-wilayah kekuasaan Islam, tulisan-tulisan yang memuat kajian tentang hal serupa belum sempat dimasukkan.[1][2] Padahal, tulisan Muhammad Ishaq ibn Yasar diabat ke-7 masehi berjudul Al-Siyar wa al- Maghazi memuat berbagai fragmen dari biografi Nabi Muhammad SAW[1]
Diperkirakan masih banyak tulisan-tulisan ilmuwan Muslim yang berisi kajian mengenai permasalah serupa, namun sayangnya karya-karya tersebut tidak dapat dikembangkan menjadi disiplin ilmu tersendiri, yaitu psikologi agama seperti halnya yang dilakukan oleh kalangan ilmuwan Barat.[1][2] Karya penulis Musli pada zaman modern, seperti bukunya Al-Maghary yang berjudul Tatawwur al-Syu'ur al-Diny 'Inda Tifl wa al-Murahid (Perkembangan Rasa Keagamaan pada Anak dan Remaja), bagaimanapun dapat disejajarkan dengan karya-karya yang dihasilkan oleh ahli-ahli psikologi agama lainnya.[1][2] Karya lain yang lebih khusus mengenai psikologi agama adalah Ruh al-Din al-Islamy (Jiwa Agama Islam) karangan Alif Abd Al-Fatah, tahun 1956. [1]
Perkembangan di Indonesia
Adapun ditanah air perkembangan psikologi agama dipelopori oleh tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang profesi ilmuwan, agamawan, dan bidang kedokteran.[3] di antara karya-karya awal yang berkaitan dengan psikologi agama adalah buku Agama dan Kesehatan Badan/Jiwa (1965), tulisan Prof. dr. H. Aulia. [1] Kemudian Tahun 1975, K.H. S.S. Djam’an menulis buku Islam dan Psikosomatik.[1] Dr. Nici Syukur Lister, menulis buku Pengalaman dan Motivasi Beragama: Pengantar Psikologi Agama.[1]
Adapun pengenalan psikologi agama di lingkungan perguruan tinggi dilakukan oleh Prof. Dr. H. A Mukti Ali dan Prof. Dr. Hj. Zakiah Darajat.[1] Buku-buku yang khusus mengenai psikologi agama banyak dihasilkan oleh Prof. Dr. Zakiah Darajat, antara lain: Ilmu Jiwa Agama (1970), Peranan Agama dalam Kesehatan Mental (1970), dan Kesehatan Mental.[1][2] Prof. Dr. Hasan Langgulung juga menulis buku Teori-teori Kesehatan Mental yang juga ikut memperkaya khazanah bagi perkembangan psikologi agama di Indonesia.[1]
Sejak menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri, perkembangan psikologi agama dinilai cukup pesat, dibandingkan usianya yang masih tergolong muda.[1] Perkembangan psikologi agama yang cukup pesat ini antara lain ditandai dengan diterbitnya berbagai karya tulis, baik buku maupun artikel dan jurnal yang memuat kajian tentang bagaimana agama dalam kehidupan manusia.[1]


Minggu, 30 Agustus 2015

Saudaraku, Bertobatlah


SAUDARAKU,
Hawa nafsu yang ada dalam diri kita terkadang tidak bisa dikendalikan sehingga karenanya kemaksiatan dan perbuatan dosa kita lakukan.
Saudaraku,
Dosa akan didapatkan oleh mereka yang melakukan kemaksiatan. Dan ketika dosa-dosa itu melebihi pahala yang dimiliki, niscaya neraka akan menjadi tempat abadinya,na’udzubillah.
Saudaraku,
Apabila maksiat itu tak pernah engkau lakukan, maka beruntunglah engkau. Dan jagalah dirimu agar selalu terhindar darinya. Apabila terlanjur engkau berbuat maksiat. Maka bertobatlah dan jangan engkau mendekatinya lagi dan jagalah nafsumu, karena sesungguhnya Allah SWT Mahamenerima tobat mereka yang bersungguh-sungguh.
“Siapa tobat sebelum maut, mencegat setengah hari kira-kira, maka Allah SWT maafkan ia. Siapa tobat sebelum tercabut nyawa dari tenggorokannya, maka Allah SWT terima taubatnya.”
Saudaraku,
Dalam melakukan tobat, Allah SWT telah menetapkan batas waktunya. Mula-mula batas waktu yang ditetapkan adalah setengah hari atau kira-kira enam jam sebelum seseorang itu sekarat. Orang yang bertobat setengah hari sebelum ia mati tobatnya akan diterima. Artinya, dosa-dosanya selama hidup akan dihapus. Kalau sampai batas waktunya ia meninggal dalam kondisi tetap seperti itu maka ia meninggal dalam kondisi khusnul khatimah. Surga akan menjadi tempatnya kelak di hari akhir. Namun meskipun enam jam buat hidup seorang manusia termasuk singkat adakalanya waktu yang sesingkat itu masih saja dimanfaatkan untuk maksiat sehingga ia mati su’ul khatimah. Maka Allah SWT memendekkan kembali batas akhir waktu tobatnya. Yaitu sesaat sebelum meninggal. Mungkin dalam hitungan menit. Bagi mereka yang masih sempat bertobat maka Allah akan ampuni dosa-dosanya.
Saudaraku,
Adakalanya pula yang sudah sesingkat itu masih saja ada orang bermaksiat. Sehingga dosa yang telah dihapus sebelumnya menjadi timbul kembali. Yang sering terjadi adalah masalah warisan. Seseorang menjelang meninggal biasanya terpikir harta warisannya. Ia tidak ingin anak-anaknya ribut sehingga ia perlu membaginya sebelum meninggal. Ia tidak percaya dengan aturan hukum Islam dalam pembagian harta warisan. Ia merasa aturan fara’idh (pembagian warisan) dalam Islam tidak adil karena seorang wanita hanya mendapatkan setengah dari kaum pria. Karena takut terjadi keributan, ia sebelum meninggal membagi-bagi hartanya. Rumah ini untuk si anu, mobil ini untuk si anu, deposito ini untuk si anu, harta ini untuk si anu. Dengan keragu-raguan dirinya terhadap hukum Islam bahkan menganggapnya tidak adil, akan menjerumuskan dirinya dalam kondisi su’ul khatimah.
Saudaraku,
Maka Allah SWT mempersempit lagi batas waktunya. Siapa tahu seorang manusia sekarat masih berbuat dosa seperti masalah warisan di atas. Allah SWT memberikan tengat waktu sebelum nyawanya berhasil mencapai kerongkongan. Seperti kita ketahui, malaikat maut mencabut nyawa manusia dari mulai bawah kemudian ke atas. Ketika pencabutan nyawa masih di daerah lutut atau pusar, tobat seseorang masih diterima. Namun ketika nyawa sudah di kerongkongan dan nafasnya sudah tersenggal-senggal, di situlah batas akhir tobat sudah habis. Ia hanya bisa menyaksikan malaikat mencabut nyawanya dengan ganas dan rasa pedih yang amat sangat dikarenakan ia belum bertobat.
Saudaraku,
Marilah kita selalu berdoa agar dapat meninggal dalam kondisi sudah bertobat. Kemudian Allah SWT memberikan predikat husnul khatimah kepada kita sehingga saat nyawa terangkat rasanya laksana mengambil rambut dalam adonan kue. Tidak terasa sakit dan hanya sebentar. Juga kita berdoa, agar diberikan waktu cukup untuk bertobat sehingga meski pun kita masih hidup namun matahari belum terbit dari barat, alias datangnya hari kiamat. [mila/islampos]
Sumber: Hikmah dari Langit/Ust. Yusuf Mansur & Budi Handrianto/Penerbit: Pena Pundi Aksara/2007

Nasihat untuk Orang yang Suka Berbuat Dosa


Nasihat Ustadz Arifin Ilham tentang Fungsi Rumah Seorang Muslim

ASSALAAMU ALAIKUM WA RAHMATULLAAHI WA BARKAATUHU. Sahabatku tercinta karena Allah, rumah bagi hamba yang beriman bukan hanya untuk berteduh, tempat tinggal keluarga apalagi hanya untuk status sosial. Hamba beriman itu tahu persis tujuan hidup yang sebentar ini, inilah diantara fungsi rumah bagi hamba berIman:
1. “Al musholla”, rumah ibadah untuk meraih ridho Allah, dihidupkan dg tadabuurul Qur’an dan sholat sholat sunnah, “Terangilah rumah-rumahmu dg sholat dan membaca Al-qur’an (HR Baihaqi).
2. “Al Madrasah”, majlis ilmu, ayah ibu gurunya, anak anaknya menjadi muridnya, demikian pula suami gurunya bagi istrinya (QS Luqman 13).
3. “Al Junnah”, benteng penjagaan iman keluarga dan benteng dari penyakit sosial, “Selamatnya seseorang ketika terjadi fitnah adalah dg menetapi rumahnya” (HR Ad Dailami).
4. “Al maskanah”, pelipur lara dan pelepas duka untuk ketenangan (QS Ar Rum 21)
5. “Al Maulud” tempat memperbanyak keturunan umat nabi Muhammad (QS An Nisa 1)
6. “Al Markaz”, mempersiapkan generasi dakwah yang tangguh, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).
7. “Al mahyaus sunnah” untuk menghidupkan sunnah sunnah. Rasulullah, cara makan, minum, adab hubungan suami istri dsb (QS Al Ahzab 21).
8, “Al Marham” forum liqo, shilaturrahm dg tetangga dan sahabat mu’min (QS An Nisa 1).
9. “Al Masykuur” tempat bersyukur atas semua ni’mat karunia Allah tiada terhingga (QS Ibrahim 7).
Sahabatku, money can buy a house but money can not buy a home, uang memang dapat beli rumah yang mewah sekalipun tetapi uang tidak dapat beli ketenangan, kecuali rumah itu dihuni oleh hamba hamba Allah yg beriman, maka tenang, damai, bahagia pun diraih, Syurga sebelum Syurga.
“Allahumma ya ALLAH jadikanlah rumah kami, rumah yg penuh dg RAHMAT dan BERKAHMU…aamiin”. Foto saat abang mengajar dua bidadari abang di setiap kamis sore menjelang berbuka puasa sunnah bersama. []

Sumber: https://www.facebook.com/kh.muhammad.arifin.ilham/photos/a.435861909738.221420.56922759738/10153671454744739/?type=1&theater

Ketika Allah Mencintai Seorang Hamba

SAUDARAKU,
Cinta adalah kata yang tidak akan pernah habis untuk diperbincangkan. Rasanya tak pernah bosan bagi kita untuk membahas mengenai cinta ini. Cinta selalu menjadi hal yang menarik. Namun, sayangnya manusia terlalu sempit menerjamahkan persoalan cinta. Tidak sedikit manusia yang hanya melabuhkan cintanya hanya kepada lawan jenis. Padahal cinta lebih luas dari sekadar kepada lawan jenis.
Tak akan pernah ada cinta yang hakiki di dunia ini kecuali kecintaan kepada Allah SWT. Tabb Yang Maha Mulia, yang menciptakan bumi dan segala isinya dengan penuh rasa kasih sayang. Allah telah menciptakan manusia ke bumi ini dengan seperangkat cinta yang ia anugrahkan. Dan Allah akan senantiasa mencintai hamba-Nya selama hamba itu taat kepada-Nya.
Saudaraku,
Dari Abu Hurairah, dia menceritakan, Rasulullah Saw bersabda,
“Sesungguhnya jika Allah SWT mencintai seorang hamba, maka Jibril pun berseru, ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Kemudian Jibril juga mencintainya, lalu Jibril berseru ke langit, ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Maka semua yang ada di langit mencintainya, serta diberikan tempat yang luas baginya untuk dicintai di bumi.” (Muttafaqun Alaih)

Saudaraku,
Para ulama mengatakan, ‘Kecintaan Allah SWT kepada hamba-Nya merupakan kehendak-Nya untuk memberikan kebaikan, petunjuk, kenikmatan, dan rahmat kepadanya.
Sedangkan kecintaan Jibril dan para malaikat secara keseluruhan mencakup dua segi, salah satunya adalah permohonan ampunan dan doa untuknya. Dan yang kedua, bahwa kecintaanya terhadapnya seperti layaknya kecintaan yang ada di antara sekalian manusia, yaitu berupa kecenderungan hati kepadanya dan kerinduan mereka bertemu dengannya. Kecintaan mereka itu disebabkan oleh karena dia senantiasa taat kepada Allah.[]
Sumber : Fiqih Wanita Edisi Lengkap/Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah/Pustaka Al-Kautsar

Rabu, 12 Agustus 2015

Menabung, Ini Cara Mudah dan Menyenangkan


Selamatkan Diri dari Dajjal : Persenjatai Diri dengan Ilmu Agama


DAJJAL seperti yang telah kita tahu akan datang dan menyebarkan fitnahnya di muka bumi ketika Akhir Zaman tiba, dan adalah rahasia Allah SWT kapan waktu datangnya Dajjal itu. Mengenai hal ini, tentu semua orang tidak menginginkan terkena fitnahnya apalagi sampai dipertemukan dengannya. Namun ada upaya-upaya yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan diri dari Dajjal dan segala bentuk fitnahnya. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah dengan memepersenjatai diri kita dengan ilmu Agama.
Penguasaan ilmu agama yang dipadu dengan iman yang kuat kepada Allah SWT merupakan senjata ampuh untuk menghadapi segala bentuk fitnah, termasuk fitnah Dajjal. Rasulullah SAW sudah menyampaikan satu kisah tentang seorang pemuda Mukmin pemberani dari Madinah ketika berhadapan dengan Dajjal. Di dalam hadits tersebut dijelaskan betapa pentingnya ilmu dan iman dalam membentengi diri dari pelbagai macam fitnah.
Abu Sa’id al-Khudri RA menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Dajjal akan datang, dan ia diharamkan memasuki jalan-jalan kota Madinah. Ia pun singgah di padang gersang (Tanah gersang dengan kandungan garam yang tinggi) yang berada di dekat Madinah. Lalu seorang pemuda Mukmin terbaik menemuinya dan berkata, ‘Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diwartakan kedatanganmu oleh Rasulullah SAW.’
Dajjal lalu berkata kepada para pengikutnya, ‘Bagaimana pendapat kalian, jika aku membunuh orang ini lalu menghidupkannya kembali, apakah kalian masih meragukan ketuhananku?’
Mereka menjawab ‘Tidak.’
Dajjal pun membunuh pemuda itu dan menghidupkannya kembali. Dalam riwayat lain disebutkan, Dajjal pun menebasnya dengan pedang hingga tubuh pemuda itu terbelah dua, sampai-sampai kedua belahan tubuhnya itu terpisah sejauh tembakan anak panah. Dajjal lalu memanggil pemuda itu. Pemuda itu berdiri dan menghampiri Dajjal dengan wajah berseri dihias senyuman, lalu berkata, ‘Demi Allah, kini aku menjadi semakin yakin tentang dirimu.’”
Riwayat lain menuturkan, ”Ketika Dajjal muncul, seorang pria Mukmin mendatanginya. Para pengawal dan pengikut Dajjal pun menghadangnya. Mereka lantas bertanya, ‘Engkau mau kemana?’
Pria Mukmin itu menjawab, ‘Aku mau bertemu orang yang baru datang itu.’
‘Tidakkah engkau beriman kepada tuhan kami?’ tanya mereka lagi.
Pria itu menjawab, ‘Tuhanku tidak pernah menghilang.’
Mereka pun berkata, ”Bunuh orang ini!’
Namun, di antara mereka ada yang menukas, ‘Bukankah tuhan kalian melarang kalian membunuh seseorang tanpa persetujuannya?’
Mereka lantas membawa orang Mukmin itu. Begitu melihat Dajjal, orang Mukmin itu berseru, ‘Wahai sekalian manusia, ini adalah al-Masih an-Dajjal yang sudah disebutkan oleh Rasulullah SAW.’
Dajjal memerintahkan para pengikutnya agar orang Mukmin itu ditelantangkan untuk dibunuh. Ia berkata, ‘Tangkap dan pukuli dia!’
Para pengikut Dajjal pun memukuli perut dan punggung orang orang Mukmin itu bertubi-tubi.
Dajjal lalu bertanya kepada pria itu, ‘Tidakkah engkau beriman kepadaku?’
‘Engakau adalah al-Masih si pendusta besar,’ jawab orang itu.
Dajjal pun memerintahkan para pengikutnya untuk menggergaji tubuh orang Mukmin itu dari ujung tengah-tengah kepala sampai ujung tengah-tengah antara kedua kaki hingga terbelah dua. Setelah itu, Dajjal berdiri di antara kedua belahaan tubuh itu, dan berkata, ‘Bangunlah!’ Tubuh orang Mukmin itu pun berdiri tegak.
‘Apakah sekarang engkau mau beriman kepadaku?’ tanya Dajjal kemudian.
Orang Mukmin itu menjawab, ‘Aku bertambah yakin tentang dirimu.’
Pria itu melanjutkan berbicaranya dengan berkata, ‘Wahai sekalian manusia, ia tidak akan dapat lagi melakukan tindakan yang sama seperti ini kepada siapa pun setelah apa yang kualami ini.’
Dajjal lalu menangkapnya untuk disembelih. Namun Allah SWT menciptakan tembaga yang membalut leher sampai pundak orang Mukmin itu. Sehingga, Dajjal tak bisa membunuhnya. Setelah itu, ia pun memegang kedua tangan dan kaki orang itu, lalu melempar tubuhnya ke dalam api yang dibawahnya. Orang yang melihat menyangka bahwa pria Mukmin itu dilemparkan ke dalam neraka. Namun, sesungguhnya ia dilemparkan ke dalam surga.” Nabi SAW pun bersabda, “Pria inilah syahid teragung di sisi Allah” (HR Muslim)
Intisari hadits tersebut menunjukkan kepada kita pentingnya mempelajari ilmu agama. Seandainya pemuda Mukmin itu sebelumnya tidak memiliki pengetahuan tentang ciri-ciri Dajjal, tentu ia tidak akan tahu bahwa yang dihadapinya itu adalah Dajjal. Karena itu, siapa pun yang menghadapi para pelaku kebatilan, wajib membekali dirinya dengan ilmu.
Pemuda Mukmin itu sudah menegaskan bahwa yang dihadapinya itu adalah Dajjal, dan pembunuhan ini tak akan dilakukan lagi oleh Dajjal kepada orang lain sesudahnya. Penegasan pemuda Mukmin ini disebabkan karena ia adalah seorang penurut ilmu agama yang sebelumnya sudah membaca hadits tentang peristiwa ini. Sehingga, ia pun tahu bahwa pemuda Mukmin yang disebutkan oleh hadits Nabi yang dibacanya itu adalah dirinya. [mila/islampos]
Sumber: Kimat Sudah Dekat?/Dr. Muhammad al-‘Areifi/Penerbit: Qisthi Press/2011

Selasa, 28 Juli 2015

Mengatasi Korupsi dalam Perspektif Islam

Tindakan korupsi memberikan dampak cukup fatal kepada negara dan masyarakat dengan menghilangkan kekayaan negara yang digunakan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.
Islam tidak saja mengharamkan korupsi tetapi juga memberikan solusi untuk melakukan tindakan preventif pencegahan supaya tidak terjadinya korupsi. Dalam konteks Indonesia perlu kiranya menelusuri dan menerapkan tawaran Islam dalam memberantas korupsi yang sudah menggurita dalam segala bidang. Setidaknya, ada enam langkah yang dapat dilakukan yaitu:
Pertama, larangan menerima suap dan hadiah. Hadiah dan suap yang diberikan seseorang kepada aparat pemerintah pasti mengandung maksud agar aparat itu bertindak menguntungkan pemberi hadiah. Tentang suap Rasulullah berkata, “Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima suap” (HR Abu Dawud). Tentang hadiah kepada aparat pemerintah, Rasul berkata, “Hadiah yang diberikan kepada para penguasa adalah suht (haram) dan suap yang diterima hakim adalah kufur” (HR Imam Ahmad). Suap dan hadiah akan berpengaruh buruk pada mental aparat pemerintah. Aparat bekerja tidak sebagaimana mestinya.
Kedua, Penghitungan kekayaan. Menurut kesaksian anaknya, yakni Abdullah bin Umar, Khalifah Umar pernah mengkalkulasi harta kepala daerah Sa’ad bin Abi Waqash. Putranya ini juga tidak luput kena gebrakan bapaknya. Ketika Umar melihat seekor unta gemuk milik anaknya di pasar, beliau menyitanya. Hal ini dilakukan Umar karena unta anaknya itu gemuk digembalakan bersama-sama unta-unta milik Baitul Mal di padang gembalaan terbaik. Ketika Umar menyita separuh kekayaan Abu Bakrah, dia itu berkilah “ Aku tidak bekerja padamu “. Jawab Khalifah, “Benar, tapi saudaramu yang pejabat Baitul Mal dan bagi hasil tanah di Ubullah meminjamkan harta Baitul Mal padamu untuk modal bisnis !” Bahkan, Umar pun tidak menyepelekan penggelapan meski sekedar pelana unta.
Ketiga, keteladanan pemimpin. Khalifah Umar menyita sendiri seekor unta gemuk milik putranya, Abdullah bin Umar, karena kedapatan digembalakan bersama di padang rumput milik Baitul Mal Negara. Hal ini dinilai Umar sebagai bentuk penyalahgunaan fasilitas negara. Demi menjaga agar tidak mencium bau secara tidak hak, Khalifah Umar bin Abdul Azis sampai menutup hidungnya saat membagi minyak kesturi kepada rakyat. Dengan teladan pemimpin, tindak penyimpangan akan mudah terdeteksi sedari dini. Penyidikan dan penyelidikan tindak korupsi pun tidak sulit dilakukan. Tapi bagaimana bila justru korupsi dilakukan oleh para pemimpin? Semua upaya apa pun menjadi tidak ada artinya sama sekali.
Keempat, hukuman yang berat. Pada umumnya, orang akan takut menerima risiko yang akan mencelakaan dirinya. Hukuman dalam Islam memang berfungsi sebagai zawajir(pencegah). Artinya, dengan hukuman setimpal atas koruptor, diharapkan orang akan berpikir sekian kali untuk melakukan kejahatan itu. Korupsi adalah perbuatan yang tidak secara mencederai atau mengakibatkan mudarat bagi segelintir atau sekelompok orang tetapi rakyat. Maka seyogianya hukuman yang diberikan mesti cukup berat untuk memberikan efek jera dan sanksi sosial kepada pelaku korupsi.
Kelima, Sistem penggajian yang layak. Aparat pemerintah harus bekerja dengan sebaik-baiknya. Hal itu sulit berjalan dengan baik bila gaji tidak mencukupi. Para birokrat tetaplah manusia biasa yang mempunyai kebutuhan hidup serta kewajiban untuk mencukup nafkah keluarga. Agar bisa bekerja dengan tenang dan tidak mudah tergoda berbuat curang, mereka harus diberikan gaji dan tunjangan hidup lain yang layak. Berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan hidup aparat pemerintah, Rasul dalam hadis riwayat Abu Dawud berkata, “Barang siapa yang diserahi pekerjaan dalam keadaan tidak mempunyai rumah, akan disediakan rumah, jika belum beristri hendaknya menikah, jika tidak mempunyai pembantu hendaknya ia mengambil pelayan, jika tidak mempunyai hewan tunggangan (kendaraan) hendaknya diberi. Adapun barang siapa yang mengambil selainnya, itulah kecurangan”.

Rabu, 29 April 2015

segeralah Miliki, Paket Buku Saku keluarga Islami + CD tausyiah


bismillah assalamualaykum, Hayoo segeralah Miliki, Paket Buku Saku keluarga Islami + CD tausyiah

Buku saku yang sangat layak dimiliki oleh setiap muslim yang ingin mempelajari tentang realita yang ada pada masyarakat pada saat ini. Buku ini disajikan seringkas mungkin tetapi tetap mengutamakan isi. Buku paket keluarga 1 ini terdiri dari 10 buku yang berbeda dan tema yang berbeda juga. Buku paket Keluarga 1 ini terdiri dari 10 judul buku yaitu: 1. DUNIA MISTIK 2. SUNNAH & SYIAH 3. KEAGUNGAN SOLAT 4. KEPERCAYAAN-KEPERCAYAAN MUNGKAR 5. PETAKA DI BALIK RIBA 6. JANGAN DEKATI ZINA 7. BAHAYA MIRAS & NARKOBA 8. RAMBU-RAMBU TAQWA 9. MUKMIN DAN KAFIR 10. ALAM AKHIRAT
+ 1 CD berisi tausiah 10 judul diatas harga Rp.100.000,- saja kami siap kirim untuk seluruh daerah di pulau jawa -sangat bagus untuk bacaan keluarga untuk menambah wawasan islami -sangat bagus untuk hadiah agar semakin akrab orang yang diberi hadiah ayo hubungi / sms ke no 08972237492

Senin, 06 April 2015

Hikmah di Balik Pemblokiran Situs Islam


Jakarta. Bagi setiap muslim, musibah atau kejadian apapun yang menimpanya pasti akan diiringi dengan hikmah yang ada dibalik semua itu. Demikian pula dengan pemblokiran situs islam oleh Kemenkominfo atas rekomendasi dari BNPT, ternyata banyak hikmah yang bisa di ambil.
Demikian dinyatakan oleh Ustazd Bachtiar Nasir,  pemilik  IQL Islamic Center  yang menjadi salah satu situs yang ikut diblokir.
Hikah yang bisa diambil diantaranya momen ini bisa dijadikan sebagai langkah awal untuk mempersatukan media Islam.
“Ketika pertama kali mendengar situs Islam diblokir, saya langsung bilang alhamdulillah, momen ini harus diambil hikmahnya,” kata Ustazd Bachtar Nazir dikutip dari ROL, Senin (6/4/15).
Menurut Ustazd Bachtiar, tindakan pemblokiran Kemenkominfo atas rekomendasi BNPT terhadap situs Islam tersebut menjadi momen untuk mempersatukan situs Islam. Bachtiar mengatakan, jika berbicara soal media akan didasari oleh adanya perang Isu.
“Mereka malu memiliki media yang besar kalah isu dengan media Islam yang kecil dan miskin ini,” katanya.
Hikmah lainya, kata dia, masyarakat yang sebelumnya tidak pernah membaca situs Islam kini membela situs Islam. Dan Insya Allah, lanjut Bachtiar, setelah pemblokiran ini mencuatkan rencana pembentukan sebuah Kantor Berita Islam Nusantara.
Ia menjelaskan, arah pembuatan kantor berita itu sudah mulai terang. Jika tidak ada kejadian pemblokiran, tidak akan lahir donator baru bagi situs dakwah umat Islam. Sebab, Setelah kejadian ini banyak masyarakat yang antusias bersedia menjadi donatur.
“Ustazd mau bikin kantor berita Islam? Saya siap modalin Ustazd, Kalau begitu isunya panjangin dikit dah jangan cepat-cepat abis,” katanya.
Dia mengatakan, sudah saatnya media Islam berpikir jauh ke depan. Sehingga mulai hari ini, cara berpikirnya harus satu, yakni media Islam harus menjadi media “mainstream” di Indonesia karena umat Islam terbesar di Indonesia. Dia menilai kejadian itu sebagai rizki dari Allah SWT.  Baiknya ketika manusia mendapat musibah berucap syukur.
Alhamdullilah Alaquliha saya hanya ingin menyampaikan itu saja sebetulnya.” Tutup ustazd Bachtiar. (ROL/sbb/dakwatuna)

Selasa, 24 Maret 2015

Jika Ada Bagian Tubuh yang Sakit, Ini Doa dan Terapi yang Diajarkan Rasulullah


Rasulullah mensabdakan, segala penyakit pasti ada obatnya. Karena itu beliau menganjurkan umatnya untuk berobat. Selain itu, beliau juga mengajarkan doa-doa khusus untuk sakit tertentu.
Jika sakit yang diderita umatnya hanya terasa di bagian tubuh tertentu -misalnya kepala (semacam migrain), dada (jantung atau paru-paru), perut (mag)- beliau mengajarkan doa dan cara sebagai berikut:

ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِى تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ. ثَلاَثًا. وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

“Letakkan tanganmu pada tempat yang sakit dan bacalah Bismillah tiga kali, lalu bacalah “A’uudzu billahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru” (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang sedang aku rasakan dan yang aku khawatirkan)” (HR. Muslim)
Dalam Syarah Hisnul Muslim disebutkan asbabul wurud hadits ini. Ada seorang sahabat yang bernama Utsman bin Al Ash rdhiyallahu ‘anhu yang menghadap Rasulullah dan mengeluhkan sakit pada tubuhnya sejak ia masuk Islam. Lalu Rasulullah mengajarkan doa dan cara tersebut, yaitu:
1. Letakkan tangan pada bagian tubuh yang sakit
2. Baca bismillah tiga kali
3. Baca doa ini tujuh kali

أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Artinya: Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang sedang aku rasakan dan yang aku khawatirkan
Jika kita yakin seyakin-yakinnya dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini, insya Allah kita akan sembuh sebagaimana kesembuhan yang dialami oleh Utsman bin Al Ash radhiyallahu ‘anhu. Ustman bin Al Ash pula yang meriwayatkan hadits ini.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita dalam mengikuti sunnah Rasul-Nya serta senantiasa menjaga dan melindungi kesehatan kita dan keluarga kita. Allahumma aamiin. [Muchlisin BK/bersamadakwah]

Kamis, 12 Februari 2015

Pakaian Istri Adalah Kemuliaan Suami


pasangan-suami-istri-ilustrasi
Semakin banyak pria yang terang- terangan menghina istri di depan
orang lain atau di sosial media. Begitu juga dengan wanita, makin banyak yang tak sungkan mengungkapkan keburukan suami di depan teman-teman atau melalui status sosial media. Maka jadikan tulisan ini sebagai bahan renungan untuk Anda.
Saya memiliki seorang teman yang terbiasa menjadikan istrinya sebagai bahan lelucon. “Bawel banget, lu! Kayak bini gue!” Katanya suatu hari. Di lain kesempatan, dengan bangga dia menghina istrinya sendiri dan menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu, katanya, “Gendut- gendut gitu juga bini gue! Gue tidur nggak perlu nyari kasur!” Ungkapan-ungkapan semacam itu biasa terdengar di keseharian. Para suami, atau mungkin juga istri, dengan enteng menyepelekan pasangan masing-masing di hadapan orang lain. Menyebutnya ‘kampungan’, ‘matre’, ‘letoy’, ‘lemot’ atau sebutan-sebutan lain yang bernada merendahkan. Saya pikir ini bukan tentang selera humor. Ini tentang sebuah cara pandang.
Suatu hari saya pernah menulis sebuah status di Facebook, menceritakan teman saya lainnya yang mengejek selera fashion istrinya sendiri. “Selera istriku payah banget!” umpatnya. Tak cukup sampai di situ, teman saya masih memperpanjang keluhannya, seolah memberi pembenaran, “Maklum, orang kampung!”ujarnya.
Apa yang aneh dari peristiwa itu? Tampaknya memang sederhana saja, sebagaimana ia lazim terjadi di keseharian. Tetapi kadang- kadang kita gagal mengambil ‘sudut pandang’ mengapa pernyataan-pernyataan semacam itu tidak seharusnya diucapkan seorang suami untuk istrinya, begitu juga sebaliknya. Tentu saja ini soal cara pandang. Ihwal ‘selera yang buruk’, memberitahu kita sesuatu yang penting: Suami yang menjelekkan selera istrinya lupa bahwa ia juga bagian dari selera sang istri.
Begitu juga sebaliknya, istri yang menertawakan selera suaminya sebenarnya sedang menertawakan dirinya sendiri, karena ia juga bagian dari ‘selera suaminya yang buruk’ itu. Masuk akal, kan? Sampai di sini, menghargai pasangan adalah juga soal menghargai diri sendiri. Maka memuliakan dan membahagiakan pasangan juga sebenarnya merupakan upaya untuk memantaskan diri menjadi seseorang yang mulia dan bahagia.
Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 187 memberi amsal menarik soal kedudukan suami di hadapan istrinya serta kedudukan istri di hadapan suaminya, “..Istri- istrimu adalah pakaian bagi kamu sekalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka.
Banyak dari kita memahami ‘pakaian’ sebatas penutup tubuh, kain yang membungkus aurat dan melindungi kulit dari panas dan dingin. Tetapi jarang sekali yang melihat ‘pakaian’ suami bagi istrinya, juga sebaliknya, sebagai lambang harga diri dan kemuliaan. Saya ingat suatu ketika Emha Ainun Nadjib pernah menjelaskan pakaian sebagai ‘akhlak’ atau ‘kemuliaan’ manusia yang membedakannya dari binatang.
Kata Cak Nun, “Kalau engkau tidak percaya, berdirilah di depan pasar dan copotlah pakaianmu, maka engkau (akan) kehilangan segala macam harkatmu sebagai manusia. Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia. Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral, dan sistem nilai.”
Jika istri adalah pakaian suaminya dan suami adalah pakaian istrinya, maka masing-masing mereka adalah lambang kemuliaan bagi yang lainnya. Akhlak suami tercermin dari kualitas individu seorang istri dan kemuliaan seorang istri tercermin dari perilaku, kata-kata, dan integritas suaminya. Pada titik ini, kita jadi paham, kan, mengapa istri perlu berbakti pada suami dan suami perlu memuliakan istrinya?
Sebab suami yang merendahkan istrinya adalah laki-laki yang mengoyak-ngoyak pakaiannya sendiri, dan istri yang tak setia dan tak berbakti pada suaminya adalah perempuan yang menelanjangi kemuliaan sekaligus harga dirinya sendiri.
Kembali pada kasus teman saya. Lantas, apakah mengolok-olok istri di hadapan orang lain adalah perkara sepele dan urusan ‘selera humor’ belaka? Seorang laki-laki yang merobek-robek pakaiannya sendiri di depan umum, membiarkan dirinya telanjang dan kehilangan harga diri, hanya patut dikasihani!
Jadi, ini memang soal cara pandang. Sungguh aneh jika para suami ingin dipandang terhormat di hadapan teman-teman dan koleganya, tetapi tak pernah merawat dan menghias ‘pakaian’- nya. Betapa mengherankan jika para istri ingin tampil cantik dihadapan siapa saja, tetapi pada saat bersamaan tidak memedulikan ‘pakaian’ mereka sendiri.
Akhirnya, sangat masuk akal jika di bagian lain Al-Quran mengatakan bahwa laki-laki yang baik diperuntukkan untuk perempuan yang baik dan perempuan terbaik hanya dipersiapkan untuk laki-laki terbaik. Mereka akan saling merawat ‘pakaian’ masing-masing dengan berakhlak baik pada satu sama lainnya. Selayaknya pakaian yang menunjukkan kemuliaan, ia bukan sekadar melekat pada kulit, tetapi melindungi dari cuaca buruk, menutupi aib pada tubuh, menghiasi diri di hadapan tatap mata dunia.
Barangkali inilah saatnya memuliakan pasangan kita, seperti diri yang setiap hari bersolek menjelang pesta, mengenakan pakaian terbaik yang kita punya, berjalan dengan hati-hati menghindari apapun saja yang bisa mengotorinya, menjaganya, merawatnya, membanggakannya. Mulailah dari yang paling sederhana, tersenyumlah pada istri atau suami Anda, sekarang atau sebentar lagi. Tatap mereka dengan rasa bangga, sesekali puji mereka. Jika mereka sedang tak di dekat Anda, ambil kamera dan berfotolah. Di antara hal-hal istimewa dalam rumah tangga adalah saat seorang istri tersenyum tulus di hadapan suaminya. Selamat mengenakan pakaian kemuliaan Anda masing-masing. Subhanallah…
Sumber: Fanpage Buah Hatiku